Waspada Kekerasan Seksual

Waspada Kekerasan Seksual

Waspada kekerasan seksual wajib dilakukan oleh semua orangtua dan anak. Meskipun demikin, kekerasan seksual tidak hanya dapat menimpa anak, wanta, dan pria pun juga dapat menjadi korban. Oleh karena itu, waspada kekerasan seksual wajib dilakukan oleh semua orang. Terlebih sekarang marak yang dinamakan dengan penyuka sesama jenis. Ini tentu menjadi kekhawatian khusus bagi anak laki-laki.

Anak yang mengalami kekerasan seksual akan menutup diri, tidak berdaya, tertinggal, mengalami konflik, dan menarik diri. Kekerasan seksual akan mempengaruhi keadaan psikologis anak secara berkelanjutan dalam waktu yang lama. Penelitian yang dilakukan oleh Daigneault, Vézina-Gagnon, Bourgeois, Esposito, & Hébert (2017: 1) menunjukkan bahwa kekerasan seksual pada anak perempuan memiliki masalah fisik dua kali lipat daripada anak laki-laki.  Sebaliknya, kekerasan seksual pada anak laki-laki dua mengakibatkan masalah mental dua kali lipat daripada anak perempuan.

Laki-laki yang mengalami kekerasan seksual ketika masih berusia kanak-kanak menunjukkan lebih banyak tekanan trauma, gangguan jiwa, dan berakibat pada kondisi mentalnya secara umum. Anak yang mengalami kekerasan seksual harus mendapatkan perawatan lanjutan setiap lima tahun sekali harus cek ke dokter. Hal ini karena anak laki-laki jarang bercerita dan mengungkapkan perasaannya kepada oranglain. Anggapan bahwa anak laki-laki tidak boleh nangis dan curhat adalah budaya yang harus dihilangkan. Baik anak laki-laki maupun perempuan diperbolehkan untuk menangis. Menangis adalah luapan emosi sehingga seseorang dapat menjadi lebih tenang. Namun jika dipendam khawatirnya malah akan semakin menjadi-jadi atau bisa lari ke penyalah gunaan obat karena mereka ingin merasa tenang.

Anak laki-laki yang dilecehkan secara seksual lebih menunjukkan perilaku penyalahgunaan obat, melakukan kegiatan seksual yang berisiko, menjadi penjahat, dan berusaha bunuh diri. Oleh karena itu, perilaku ini perlu mendapatkan perhatian lebih daripada penyakit fisik yang cukup membutuhkan konsultasi medis. Anak perempuan yang dilecehkan secara seksual lebih sering bercerita kepada orangtua daripada anak laki-laki. Anak laki-laki lebih memilih menunda bercerita agar diberikan bantuan ketika mereka sakit secara fisik. Hal ini mungkin akan bertentangan dengan norma maskulin yang mereka pikirkan.

baca juga : Diare Salah Satu Penyakit Pada Anak Usia Dini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *