Teori Behavioristik di PAUD

Teori Behavioristik di PAUD

Teori behavioris memandang bahwa proses belajar manusia adalah kaitan antara stimulus dan respon. berikut beberapa tokoh penganut teori behavioristik di PAUD.

Freud

Menurut Freud, perkembangan dasar kepribadian terbentuk pada lima tahun pertama kehidupan. Pengalaman di usia dini atau pengalaman awal sangat penting karena kepribadian yang terbentuk ketika dewasa ditentukan oleh cara anak mengatasi konflik diantara sumber kenikmatan oral, anal, alat kelamin, dan tuntutan realitas. Bila konflik tidak dapat diatasi, anak akan memendam perasaan yang mendalam pada tahapan psikoseksual tersebut. Hal ini karena motivasi bawah sadar mempengaruhi perilaku dalam perkembangan individu (Izzaty, et al., 2008: 27).

Erikson

Menurut Erikson, perubahan perkembangan terjadi di sepanjang siklus kehidupan manusia.  Setiap anak memiliki tugas perkembangan yang harus dikuasai pada tiap tahapannya yang berlangsung sepanjang kehidupannya. Setiap tahapan psikososial Erikson terdiri dari tugas perkembangan yang menghadapkan anak pada suatu krisis yang harus dipecahkan. Semakin berhasil menyelesaikan krisis yang dihadapai, semakin sehat perkembangannya. Perkembangan psikososial sangat dipengaruhi oleh masyarakat  seperti pola asuh orangtua dan perkembangan budaya.

Skinner

Hasil belajar tidak harus sesuatu yang sudah terencana dalam lesson plan tetapi juga yang ada di luar itu dapat dijadikan sebagai hasil belajar. Dalam proses belajar, anak harus aktif bebas dengan dikontrol oleh konsekuensi-konsekuensi tertentu dari perilakunya tersebut (Crain, 2014:297). Pengontrolan ini dilakukan melalui pemberian penguatan positif atau negatif. Penguatan positif membuat anak melakukan pengulangan perilaku, sedangkan negatif akan memperlemah atau menghilangkan perilaku anak yang salah.

Piaget

Menurut Piaget, anak harus belajar sesuai dengan tahap perkembangannya sehingga metode pendekatan pembelajaran dapat diberikan dengan tepat. Ia meyakini bahwa belajar adalah proses regulasi dan anak akan menciptakan sendiri sensasi perasaan mereka terhadap realitas (Santrock, 2007: 262). Pengamatan yang melibatkan seluruh pancaindera menyimpan kesan lebih lama yang membekas pada diri anak. Oleh karena itu, anak akan mengalami kesulitan dalam mencapai tujuan belajar jika tidak ada penyesuaian proses pembelajaran dengan tahap perkembangan anak

 

baca juga : Kegiatan Anak Selama Pandemi Covid di Rumah

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *