Risiko Negatif Jika Emosional Anak Dibiarkan

Risiko Negatif Jika Emosional Anak Dibiarkan

Risiko negatif jika emosional anak dibiarkan tentu berdampak pada pengendalian emosinya sendiri. Anak sedang dalam tahap belajar, termasuk dalam perkembangan emosi. Berikut beberapa risiko negatif jika perkembangan emoional anak tidak tersetimulasi dengan baik.

Tidak mampu membangun emphatic complex

Orangtua yang terlalu khawatir akan keselamatan anaknya atau terlalu menunjukkan kasih sayang tidak akan emdnorogn anak untuk belaajr mengekspresikan kasih sayang kepada oranglain. Bahkan, hal ini mendorong anak memusatkan kasih sayang kepada dirinya sendiri dan menuntut oranglain memberikan kasih sayang kepadanya. Akibatnya anak akan tidak mampu mmebangun emphatic complex yaitu pertalian emosional dengan oranglain.

Hal ini tentu akan berpengaruh pada terhambatnya penerimaan anak sebagai anggota kelompok teman sebaya. Selain itu, terlalu banyak kasih sayang juga mendorong anak untuk memusatkan kasih sayang kepada satu atau dua orang saja. Akibatnya anak merasa cemas dan tidak tentram apabila orang-orang itu tidak ada.

Gagal belajar mengendalikan emosi

Ketika anak siap menduduki bangku sekolah, mereka dituntut untuk mengendalikan emosi. Apabila anak tidak mampu memenuhi tuntutan sosial ini, mereka akan memperoleh penilaian sosial yang tidak menyenangkan sehingga mereka merasa malu dan canggung. Sumber dari kegagalan pengendalian emosi ini adalah karena anak tidak belajar menganalisis situasi sebelum bereaksi secara emosional.

Hal ini merupakan keadaan yang umum terjadi pada anak yang menerima pengasuhan otoriter atau permisif. Pengasuhan otoriter menyebabkan anak ingin menghindari hukuman dengan cara mengendalikan emosi. Namun ketika orangtua tidak ada, mereka kurang terdorong mengendalikannya. Pengasuhan permisif menyebkan anak memiliki motivasi yang kecil untuk mengendalikan emosi karena orangtua tidak menuntut demikian.

Gagal belajar toleransi emosi

Anak yang tidak dapat mentolerir emosi akan mendapat penilaian yang tiak baik dari para anggota kelompok sosial karena mereka dianggap belum matang. Mereka harus mengalami situasi yang tidak menyenangkan sehingga perasaan tidak tentram, rendah diri, dan tidak mampu akan muncul. Jika anak tidak belajar mentolerir emosi yang tidak menyenangkan setahap demi setahap sejak dini, tugas ini akan sangat menyulitkan mereka setelah usianya meningkat.

Kegagalan belajar toleransi emosi biasa terjadi pada anak sulung dan kemudian anak bungsu karena keduanya terlalu dilindungi. Anak yang dididik secara permisif kemungkinan besar juga tidak belajar toleransi emosi karena mereka dapat menghindari situasi yang tidak mereka sukai dan bukannya menghadapinya sebagaimana anak dari keluarga otoriter atau demokratis.

baca juga : Penelitian Emosional Anak: Apa Pentingya?

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *