Perkembangan Sosial: Dominasi Teman atau Orangtua?

Perkembangan sosial AUD yang lebih dominan adalah teman sebayanya karena mereka dapat memberikan sumber informasi dan perbandingan tentang dunia diluar keluarga (Santrock, 2007). Anak dapat menerima umpan balik tentang kemampuan mereka dari grup sebaya dengan mengevaluasi apakah yang mereka lakukan dengan ukuran apakah sudah baik, lebih baik, atau lebih buruk daripada yang dilakukan anak lain. Sulit melakukan hal ini di rumah karena saudara biasanya lebih tua.

Sedangkan orangtua seringkali hanya mengajarkan anak bagaimana menyesuaikan diri dengan peraturan dan otoritas yang lebih besar, sebaliknya hubungan sebaya memiliki hubungan yang lebih setara. Anak dapat belajar menyatakan pendapat, menghargai sudut pandang, negosiasi solusi permasalahan, bekerjasama, dan dapat mengubah standar perilaku yang dapat diterima oleh semua. Hal ini mengakibatkan perkembangan sosial anak menjadiih baik.

Hasil penelitian

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Aureli & Procacci (1992) menunjukkan bahwa anak yang dimasukkan dalam program pengasuhan lebih banyak terlibat dalam permainan kerjasama daripada anak yang hanya diasuh oleh keluarga. Hal ini dikarenakan mereka lebih banyak melakukan interaksi sosial dengan temna sebaya dibandingkan ketika di rumah.

Perkembangan bahasa anak yang mengikuti program pengasuhan juga lebih berkembang dikarenakan banyak berpartisipasi dalam kegiatan kooperatif. Karena memiliki hubungan sebaya, anak yang mengikuti program pengasuhan lebih tersetimulus untuk belajar kosakata baru, bertukar pendapat, dan menemukan solusi menggunakan alasan-alasan yang mereka kemukakan. Hal ini tentu berbeda pada anak yang diasuh oleh keluarga, dimana otoritas keluarga lebih besar.

Anak membutuhkan teman sebaya tidak hanya untuk kepuasan pribadi tetapi juga untuk memperoleh pengalaman belajar. Beberapa manfaat dari hubungan teman sabaya adalah sebagai berikut (Berns, 2010). Pertama, bermain dengan teman sebaya dapat membelajarkan anak mengenai hak oranglain. Kelompok sebaya memberikan pemahaman bahwa ada hak oranglain ketika kita melakukan kegiatan bersama. Ketika di rumah anak dapat bermain sepuasnya dengan mainan yang ia punya, tapi ketika di sekolah ia harus berbagi. Kedua, anak dapat belajar mengetahui apa yang benar dan salah tentang suatu perilaku sebagai bagian dari belajar nilai dan moral. Anak mungkin tahu tentang moral dari keluarganya ketika awal masuk kelompok sebaya. Pengetahuan moral ini akan meluas seiring bertabahnya pengalaman anak bermain dengan sebaya.

Ketiga, teman sebaya mengajarkan anak bagaimana cara berkelakuan yang baik dalam kelompok. Anak dapat mencoba nilai moral yang selama ini dipelajari di rumah ke teman sebaya. Mereka akan mendapatkan umpan balik dari sebaya atas perilakunya itu apakah sudah sesuai atau belum.

baca juga : Pola Kebutuhan Teman untuk Anak

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *