Peran Guru dalam Proses Pembelajaran

Peran Guru dalam Proses Pembelajaran

Peran guru sebaiknya menghargai setiap pendapat anak yang bertolak ukur dari perkembangan berpikir mereka. Guru harus memiliki kepekaan, yaitu kemampuan menghargai, mengakui kebutuhan individu anak dari yang dasar sampai yang kompleks dan mampu merespon secara keseluruhan dengan pendekatan yang positif sehingga menaikkan perkembangan dan pembelajaran (Capel, Celine Marie, 2012). Guru yang peka dan mau mendengarkan pendapat anak akan lebih menghargai keunikan jalan pikiran anak, daripada pola pikir orang dewasa yang memusat, serta mengerti sudut pandang yang dimiliki anak. Guru juga akan menghindari pelabelan, khususnya pelabelan negatif kepada anak yang lambat belajar. Karena salah satu pembentuk konsep diri anak berasal dari pelabelan di lingkungan anak. Selain itu, guru juga harus mengubah sudut pandang dari memahami anak sebagai objek pembelajaran menjadi subjek dalam pembelajaran. Guru harus melibatkan anak dalam pembelajaran. Misalkan melibatkan anak dalam membuat media pembelajaran, memilih kegiatan esok hari, dan ikut menilai hasil karya anak.

Guru harus melahirkan kepercayaan yang tinggi kepada anak, guru meyakini segi terbaik dan positif dari anak serta mengkomunikasikan segala sesuatu dengan anak (Nurhalisah, 2010). Dengan adanya lingkungan yang menghargai kemampuan anak tersebut (iklim kelas yang baik), maka setiap anak akan merasa percaya diri dalam belajar, harga dirinya akan naik, dan menaikkan kualitas belajar anak. Apabila guru membatasi pendapat anak, maka hal tersebut akan membatasi kreativitas, keingintahuan dan antusiasme anak dalam belajar.

Pada kenyataannya, kelas tidak akan selalu tenang. Pasti akan ada gangguan-gangguan yang datang. Teguran perlu dilakukan guru untuk mengembalikan keadaan kelas yang kondusif sehingga dapat mendukung proses belajar mengajar. Teguran harus dilakukan pada waktu yang tepat dan bermakna (Nurhalisah, 2010). Teguran bukan mematikan kreativitas dan semangat anak, akan tetapi dengan teguran anak akan memahami dirinya dengan mengembangkan kreasi yang dimiliki sekaligus berbagai motivasi positif dalam pembelajaran.

baca juga: Guru PAUD Laki-laki? Simak Gambarannya di Luar Negeri!

Amitya, dkk (2009) menyebutkan selama ini guru mengatasi permasalahan yang terjadi di kelas melalui hadiah dan hukuman. Padahal ada pendekatan yang lebih efektif yaitu pendekatan konstruksi sosial yang memandang pengajaran sebagai stimulasi pemaknaan (meaning making) di mana proses sosial yang muncul pada aktivitas bersama yang dilakukan secara kolektif yang ada di kelas (Kumara dkk, 2010b). Menurut Burden (2003) dalam Amitya, dkk (2009) ada tujuh area tanggung jawab yang harus dikuasai oleh guru sebagai manajer kelas yang efektif, (1) memilih suatu model filosofis dari mengelola kelas dan kedisiplinann (2) mengatur lingkungan fisik, (3) mengatur perilaku siswa, (4) menciptakan lingkungna belajar yang saling mendukung dan saling menghormati, (5) mengatur dan memfasilitasi instruksi pengajaran, (6) menciptakan lingkungan kelas yang aman dan nyaman, dan (7) berinteraksi dengna rekan guru lain, orang tua, dan pihak lain untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *