Pendidikan Kesehatan dan Gizi: Apa Tujuannya?

Pendidikan Kesehatan dan Gizi: Apa Tujuannya?

Pendidikan kesehatan bertujuan untuk membantu anak belajar memilih perilaku yang baik dalam hal kesehatan, nutrisi, dan keselamatan (Brewer, 2007: 490). Selain itu, perilaku hidup sehat juga akan menurunkan risiko terjangkitnya penyakit. Baik anak maupun orang dewasa tentu akan dengan mudah terkena bakteri atau virus jika mereka tidak menjaga kesehatan sejak awal.

Anak usia dini tentu belum dapat memilih perihal ini sendiri, tetapi mereka dapat mulai dengan mengembangkan perilaku hidup sehat. Layanan gizi dapat membantu anak untuk belajar memakan aneka makanan, meningkatkan pemhaman anak untuk memilih makanan yang sehat, dan memabntu anak mengembangkan perilaku yang positif mengenai makanan.

Pemberian gizi di PAUD salah satunya bertujuan untuk memenuhi nutrisi yang diperlukan otak untuk berkembang (Wibowo, 2013:24). Milyaran sel otak anak memperoleh sebagian besar energi dari makanan dan minuman yang setiap hari anak makan. Kandungan nutrisi di dalam makanan dan minuman itulah yang akan menentukan seberapa besar energi yang bisa disuplai ke otak anak. Selain itu, layanan gizi juga dapat memberikan kesempatan pada anak untuk belajar memilih makanan yang baik untuk kesehatan. Masalah kesehatan fisik yang diakibatkan oleh nutrisi antara lain, gigi busuk, obesitas, kekurangan zat besi, anemia, dan hipersensitivitas makanan.

Pemerintah bersama masyarakat, dunia usaha, dan media massa, termasuk kelompok anak melakukan berbagai upaya dalam membangun pemahaman yang memperhatikan kepentingan terbaik anak, dengan memastikan bahwa: (1) anak di dalam dan di lingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain. (2) setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan;

(3) setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak, memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain; (4) setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, (5) setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan eksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual terhadap anak.

baca juga : Dampak Perokok di Sekitar Lingkungan Anak

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *