Pendidikan Anak Usia Dini Ala John Locke

Pendidikan Anak Usia Dini Ala John Locke

Tulisan ini mengenai Pendidikan anak usia dini menurut Ala John Locke. Simak sampai sampai akhir tulisan ini agar anda paham dengan pandangan beliau.

Profil singkat John Locke

John Locke merupakan seorang filsuf behavioris seperti Pavlov dan Skinner. Ia menyatakan bahwa anak bukanlah baik atau buruk secara bawaan, sebaliknya mereka sama sekali tidak memiliki bawaan apapun. Anak lahir dalam kondisi yang setara. Jiwa anak merupakan sebuah tabula rasa hampir seperti sebuah kertas kosong. Pikiran yang muncul darinya didapat dari penglaman dan pembelajaran. Apabila ada anak yang lebih baik dari oranglain, hal ini diakibatkan oleh kondisi yang mendukungnya. Berikut beberapa pendidikan ala John Locke yang dapat diterapkan pada anak usia dini

Pandangan John Locke

Pengendalian diri

Hal utama untuk disiplin diri adalah kesehatan anak, karena ketika sakit kemampuan mengendalikan keinginan pun juga jadi lemah. Locke memberi saran agar anak banyak latihan fisik sehingga tubuh menjadi kuat. Dia juga menyarakna kan agar anak bermain di luar apapun musimnya sehingga mereka bisa bertahan di segala cuaca.

Disiplin juga dapat dilakukan dnegan memberikan ketegasan pada anak sejak awal. Banyak orangtua yang terlalu memanjakan dan memberikan apapun dengan anggapan hal ini baik padahal itu akan menjadikan anak kerdil. Yang gagal mereka sadari adaah kebiasaan awal itu sulit diubah.

Penghargaan dan hukuman terbaik

Secara khusus Locke menentang adanya hukuman fisik karena akan menghasilkan asosiasi-asosiasi yang tidak diinginkan dan tidak efektif dalam membentuk karakter anak. Contoh anak yang sering dipukul di sekolah, ia tentu tidak akan melihat buku, guru, atau apapun yang berkaitan dnegan sekolah tnapa mengalami rasa takut dan marah. Hukuman tidak efektif ketika anak akan patuh apabila melihat cambuk, namun ketika tidak ada yang mengawasi mereka akan melanggarnya kembali.

Penghargaan juga tidak mesti menghasilkan segala sesuatu yang kita inginkan. Locke menentang penggunaan uang atau manisan sebagai hadiah karena akan merusak tujuan utama pendidikan. Ketika kita memberikan hadiah itu kita hanya akan mendorong mereka menemukan kebahagian dalam itu saja.

Baca Juga: Konsep pendidikan anak usia dini di Indonesia

Penghargaan terbaik adalah dengan pujian dan sanjungan, hukuman terburuk adalah ketidaksetujuan.  Ketika anak berbuat baik, maka kita harus memuji dan membuat mereka merasa bangga. Sebaliknya keitka berbuat salah kita hanya boleh memberinya tatapan dingin, dan membuat mereka merasa malu. Anak sangat sensitive terhadap persetujuan dan ketidaksetujuan khususnya kepada orangtua dan orang yang mereka gantungi. Kita dapat menggunakan ini untuk menanamkan tingkah laku rasional dan baik.

Beberapa peneliti menyatakan bahwa pujian dan hadiah tidak selalu positif bagi anak tetapi hanya menilai dan menghakimi. Meskipun mematikan motivasi intrinsic siswa, kedua hal tersebut juga dapat mempertahankan dan meningkatkan motivasi intrinsic dengan adanya perhatian khusus tidak ada efek negatifnya.

Kita juga dapat memperkuat keefektifan persetujuan atau ketidaksetujuan dengan memasangkan reaksi dengan konsekuensi lainnya. COntoh seorang anak meminta dengan sopan spotong kue, allau kita memberikan dan memuji kesopanannya. Dengan cara ini anak belaajr mengasosiasikan persetujuan dengan konsekuensi yang menyenangkan sheingga ia akan lebih peduli dnegan sikapnya. Namun ketika dia memecahkan sesuatu kita dapat memperlihatkan kekecewaan sehingga dia mulai mengasosiasikan ketidaksetujuan kita dengan konsekuensi negatiff.

Aturan

Orangtua yang memberikan banyak aturan, lalu menghukum anak apabila tidak mentataati merupakan sesuatu yang tidka bermanfaat. Anak kesulitan memahami hal abstrak seperti aturan dan mereka jengkel ketika harus dihukum lantaran gagal mengingat dan memahami aturan yang mereka tidak pahami. Untuk itu Locke mnawarkan dua prosedur :

  • Menggunakan teladan atau contoh daripada pemahaman
  • Mendorong anak mempraktikkan tingkah laku yang baik. Sambil menyuruh mereka membungkuk sedikit ketika bertemua orang yang lebih tua, lebih baik kita memberikan contoh praktik actual membungkuk sedikit dan memuji anak setiap kali membungkuk dengan benar. Praktik ini akan berjalan alamiah tanpa harus menjelaskan konsep abstrak.
  • Karakteristik istimewa anak

Locke menyatakan bahwa anak memiliki kapasitas kognitif yang mengandung batasan tertentu terhadap apa yang bisa diajarkan padanya. Anak memiliki temperamen yang unik sesuai usianya seperti suka membuat gaduh, ugal-ugalan, keriangan sehingga adalah hal sia-sia ketika kita berusaha mengubah ciri-ciri alamiah ini. Kalau begitu Locke juga mengakui bahwa anak-anak bukan seutuhnya seperti kertas kosong meskipun ketidakkonsistenan ini tidak terlalu merisaukannya.

Baca juga : Tahapan Perkembangan Moral Anak

Anak belajar sesuatu hanya demi pembelajarannya itu sendiri. Jika kita bisa menjawab pertanyaan mereka, pikiran mereka kan berkembang sendiri jauh melampaui apa yang bisa kita perkirakan. Berikut beberapa kesimpulan tentang teori John Locke

  1. Prinsip belajar Locke seperti asosiasi, pengulangan, peniruan, dan pengahargaan-hukuman menjadi batu pijak bagi satu-dua teori belajar modern.
  2. Kebanyakan guru menggunakan prinsip pengahargaan-hukuman seeprti pujian untuk memotivasi anak mau belajar dan mulai menyadari ketidakefektifan hukuman fisik. Namun sebagian lagi masih terjebak dalam ketidakkonsistenan dalam penggunaan system reward-punishmnent . Disatu sisi system ini efektif untuk membentuk karakter anak, namun di sisi lain pengaruh system tidak akan sekuat yang diharapkan. Pendidik menyadari bahwa waktu bealajr terbaik anak ketika mereka tiba-tiba ingin tahu hal-hal tertentu.
  3. Menurut Locke, pendidik tidak begitu mengdalakan motivasi intrinsic anak untuk belajar bagi diri mereka sendiri. Para guru lebih percaya kalau tanggungjawab ini berada di pundak mereka dan orang dewasa untuk mengjarkan hal-hal benar. Mereka sama sekali tidak percaya bahwa anak dapat belajar sebagaimana mestinya tanpa dukungan eksternal seperti pujian, dorongan, dan harapan.

Baca juga : Pandangan Maria Montessori terhadap PAUD

Referensi

Crain, William. (2007). Teori Perkembangan : Konsep dan Aplikasi. Penerjemah Yudi Santoso. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *