Pedoman Kurikulum 2013 PAUD: Analisis Kekurangan

Pedoman Kurikulum 2013 PAUD: Analisis Kekurangan

Pedoman kurikulum 2013 PAUD berguna sebagai arahan dan bimbingan yang tertulis bagi guru PAUD dalam menyusun, mengembangkan, dan mengimplemenatasikan kurikulum. Akan tetapi dalam pedoman tersebut masih ada beberapa hal yang belum dijabarkan secara lebih rinci. Pertama, dalam pedoman penyusunan rencana pembelajaran PAUD sudah dijelaskan bahwa dokumen 2 KTSP berisi Prosem, RPPM, RPPH, dan penilaian. Akan tetapi, sebuah lembaga juga memerlukan Prota atau program tahunan yang dapat membantu lembaga mengalokasikan waktu dan dana yang dibutuhkan setiap anak dalam satu tahun. Prota berisikan berbagai kegiatan yang akan dilakukan dalam kurun waktu satu tahun. Kemudian langkah-langkah menyusun promes, akan lebih baik juga didasarkan pada STPPA bukan hanya pada KD. Indikator perkembangan anak lebih rinci dalam STPPA sehingga lebih jelas dan mudah untuk menentukan stimulus kegiatan. Begitu pula ketika menyusun RPPH, sebaiknya STPPA anak tetap dicantumkan.

baca juga: Konsep Bermain di Negara-negara Besar

Kedua, dalam penyusunan KTSP dijelaskan bahwa analisi konteks dilakukan dengan melihat kondisi, peluang, tantangan, biaya, dan nilai-nilai yang mendasari serta program yang akan dilakukan. Akan lebih baik jika dibuat sebuah tabel yang berisi S (streng), W(weak), O (opportunity), dan T (threat), beserta solusi yang diberikan sehingga lembaga dapat memiliki kualitas dan keunggulan tersendiri. Contoh seperti berikut

Hasil

Analisis

S W
Berisi kekuatan dari lembaga (SDM, lokasi, dana, sarpras, dkk) Berisi kelemahan yang dimiliki lembaga (SDM, lokasi, dana, sarpras, dkk)
O Beirisi peluang yang dimiliki oleh lembaga (sasaran pengguna, dkk) Solusi yang didapatkan setelah memmpertimbangkan  S dan O Solusi yang didapatkan setelah memmpertimbangkan  W dan O
T Berisi ancaman bagi lembaga (adanya lembaga lain sejenis yang berdekatan, dkk) Solusi yang didapatkan setelah memmpertimbangkan  S dan T

Ketiga, dalam pedoman penanaman sikap PAUD, peran orangtua selain yang sudah disebutkan juga dapat diberikan penekanan bahwa orangtua harus memiliki sikap tegas untuk mengunakan konsekuensi jika anak melanggar atau tidak menerapkan suatu sikap yang pas. Konsekuensi ini tentu harus disepakati terlebih dahulu dengan anak.

Keempat, proses saintifik dalam proses pembelajaran di PAUD tidak harus berurutan seperti yang telah dijelaskan dalam pedoman 9. Bisa saja ketika anak barusan tiba di sekolah ia langsung bertanya, “Bu guru, tanamanku kemarin di mana?”, Setelah guru menjawab, anak tersebut langsung mencoba mengamati dimana lokasi tanamannya berada.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *