Pandangan Filsuf PAUD tentang Anak Usia Dini

Pandangan Filsuf PAUD tentang Anak Usia Dini

Filsuf PAUD memiliki kontribusi pesat terhadap pandangan-pandangan pendidikan yang tepat untuk anak usia dini. berikut beberapa pandangan mereka tentang anak usia dini

Maria Montessori

Menurut Montessori, anak memiliki masa peka, belajar dengan panca indera, dan memiliki pikiran yang menyerap. Setiap anak memiliki periode kepekaan (sensitive periods) untuk mempelajari tugas tertentu dan pikiran yang mudah menyerap (absorbent mind). Tugas ini tentu diselesaikan secara bertahap berurutan dari yang mudah ke sulit atau sederhana ke kompleks karena anak tidak bisa belajar banyak keahlian sekaligus.

Penggunaan otot, indera, dan akal anak dalam beraktivitas memungkinkan anak memilih secara bebas kegiatan yang paling berkesan. Selain itu, pikiran anak mudah menyerap berbagai informasi baru karena variabilitas perkembangan otak dan intelektual mencapai 80%.

Lev Vygotsky

Menurut Vygotsky, anak dapat belajar dalam interaksi social maupun fisik untuk mengembangkan kognitifnya. Melalui interaksi dengan teman sebaya atau orang yang mampu anak dapat mengembangkan bahasa dan sikap social emosionalnya agar dapat diberikan bimbingan ketika ada tugas yang belum dapat dilakukan anak tanpa bantuan orang lain.

Albert Bandura

Menurut Albert Bandura, anak belajar melalui proses imitasi/modelling (Izzaty, et al., 28). Hal ini sesuai dengan karakter anak yang suka meniru sosok yang ia suka.

Piaget

Menurut Piaget, anak adalah pembelajar aktif yang membangun sendiri pengetahuanya dari pengalaman yang berarti (Essa, 2014: 126). Pengetahuan dibangun melalui pengalaman lingkungan yang mengandung banyak pembelajaran (key experience). Pendekatan ini mendukung pemikiran bahwa cara belajar terbaik bagi anak adalah dengan kegiatan yang direncanakan, dilakukan, dan direfleksikan sendiri oleh anak melalui diskusi (“plan-do-review”). Selain itu, anak juga diajak untuk terlibat untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan kegiatan apa yang akan dilakukan pada hari itu.

Erikson

Menurut Erikson (Izzaty, et al.,2007: 24-25), AUD berada dalam tahapan 1-3 perkembangan psikososial. Tahap pertama (Basic Trust vs Mistrust),  anak  menuntut kenyamanan fisik dari pengasuh atau orangtua dan tidak ada rasa takut atau kecemasan akan masa depan. Tahap kedua (Autonomy vs Shame/Doubt), setelah anak memperoleh kepercayaan dari pengasuh, anak mulai menyatakan kemandirian atau otonomi dalam menentukan perilaku.

Mereka mulai menyadari apa yang mereka inginkan. Jika anak terlalu banyak dibatasi atau dihukum terlalu keras, maka rasa malu atau ragu yang akan berkembang dalam diri anak. Tahap ketiga (Initiative vs Guilt), Pada usia ini, anak akan lebih banyak bertemu dengan orang dan pengalaman baru, terlebih lagi apabila anak sudah mengikuti prasekolah. Mereka harus menghadapi tantangan atau tugas yang diberikan. Anak dapat diberikan kesempatan untuk dapat menerima tanggungjawab atas tubuh, perilaku, mainan, kepemilikan barang, dan hewan peliharaan mereka.

Rasa tanggungjawab yang berkembang akan meningkatkan inisatif anak untuk berfikir kreatif. Jika anak tidak diberikan kepercayaan dan kesempatan untuk bertanggungjawab dengan dibuat cemas, maka rasa bersalah dalam diri anak akan muncul. Rasa bersalah membuat anak merasa dirinya tidak memiliki kemampuan seperti apa yang diharapkan oleh banyak orang.

Itulah beberapa filsuf PAUD yang memiliki banyak kontribusi terhadap pandangan anak usia dini.

baca juga : Perkembangan Bahasa Noam Chomsky

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *