Kurikulum PAUD dengan Pendekatan HighScope

Kurikulum PAUD dengan Pendekatan HighScope

Kurikulum PAUD dengan Pendekatan HighScope

Salah satu contoh implementasi teori yang ada di PAUD adalah dikembangkannya kurikulum dengan pendekatan HighScope. Kurikulum ini merupakan sebuah model pengembangan dari teori Piaget yang menyatakan bahwa anak adalah pembelajar aktif yang membangun sendiri pengetahuanya dari pengalaman yang berarti (Essa, 2014: 126). Pengetahuan dibangun melalui pengalaman lingkungan yang mengandung banyak pembelajaran (key experience).

Pendekatan ini mendukung pemikiran bahwa cara belajar terbaik bagi anak adalah dengan kegiatan yang direncanakan, dilakukan, dan direfleksikan sendiri oleh anak melalui diskusi (“plan-do-review”). Selain itu, anak juga diajak untuk terlibat untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan kegiatan apa yang akan dilakukan pada hari itu. Peran guru dalam pendekatan ini adalah meningkatkan motivasi anak belajar hal baru, mengamati ketertarikan anak dalam belajar, menyiapkan lingkungan belajar, membantu melakukan  plan-do-review, dan berinteraksi dengan anak.

Penggunaan anekdot

Selain itu, penggunaan catatan anekdot juga diperlukan untuk mencatat kemajuan yang diperoleh anak secara berkelanjutan dan menentukan langkah selanjutnya dalam pembelajaran (Maryatun & Hayati, 2010: 46). Intinya, HighScope menyediakan gambaran bagaimana implementasi teori Piaget dengan konsep dasarnya yaitu anak adalah pembelajar aktif yang mengembangkan konsep melalui interaksi dengan lingkungan.

Pengalaman Kunci

Pengalaman kunci yang ditekankan pada pendekatan HighScope (Biddle, et al.,2014: 62) yang pertama yaitu pembelajaran aktif dimana anak diwajibkan untuk memulai dan menyampaikan tugas-tugas mereka sendiri di kelas. Kedua, penggunaan bahasa dimana anak berkomunikasi dengan orang lain baik secara lisan maupun tulisan. Ketiga, anak diberikan kesempatan untuk menunjukkan apa yang mereka rasakan melalui gerakan, music, dan bermain peran.

Keempat, anak didorong untuk mengamati persamaan dan perbedaan benda (klasifikasi). Kelima, anak belajar mengurutkan benda (seriasi). Keenam, belajar untuk memiliki pemahaman tentang angka. Ketujuh, belajar ruang spasial. Kedelapan, anak belajar memahami penggunaan waktu.

Planning time

Lebih lanjut, HighScope Educational Research Foundation (Jackson, 2009: 36-39) menyatakan bahwa elemen dasar kegiatan anak pada kurikulum HighScope adalah planning time untuk menentukan apa yang ingin dilakukan anak dengan guru menanyakan langsung pada anak secara individu. Kegiatan ini berlangsung sekitar 10 menit. Work time untuk mengerjakan apa yang telah direncanakan sebelumnya. Guru mengamati, mendampingi, dan berbincang dengan anak apa yang sedang mereka lakukan menggunakan berbagai strategi komunikasi untuk memperluas kegiatan anak. Kegiatan ini memerlukan waktu 45-60 menit.

Cleanup time

Cleanup time yaitu waktu dimana anak mengembalikan peralatan dan bahan kegiatan pada tempatnya semula. Tujuannya agar anak memahami dimana benda tersebut diletakkan dan kenapa harus dikelompokkan sesuai tempatnya.  Recall time yaitu diskusi tentang kegiatan hari ini.  Group time yaitu pengelompokan anak untuk berdiskusi. Kelompok kecil digunakan untuk diskusi dalam planning time, sedangkan kelompok besar digunakan ketika bercerita, bernyanyi, memainkan alat music, dan olahraga. Outside time merupakan kegiatan yang melibatkan aktivitas fisik seprti berlari, berjalan, memanjat, mendorong, dan mengangkat.

Baca juga: Fungsi Teori dalam Implementasi PAUD

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *