Korelasi Agama dengan Corona

Korelasi Agama dengan Corona

Sudah menjadi momok menakutkan wabah COVID-19 hampir di seluruh dunia. Bahkan sudah menjadi bencana bersama yang dinilai darurat oleh World Healthy Organisation (WHO) United Nation (PBB). Tidak hanya pakar kesehatan, pemerintah dan ulama pun menjadi subjek penting dalam permasalahan ini. Di sini saya akan sedikit menelaah antara komponen yang menjadi agen dalam penanganan virus tersebut.

Seperti yang kita ketahui. Islam adalah agama rohmatalil ‘alamin. Keluwesannya memberikan ruang kepada pemeluknya untuk tidak merasa berat apalagi terkekang oleh aturan yang berlaku. Untuk itu dalam islam mengenal yang namanya ruksoh atau ma’fu. Yaitu opsional dalam kondisi tertentu.Misalnya saja orang salat wajib wudhu dan berdiri. Namun dalam kondisi tertentu boleh tayamum dan berbaring. Dalam salat sudah ditentukan nominal rokaat. Namun ketika bepergian dalam jarak tempuh tertentu, boleh dilakukan dengan qodho qoshor yakni dengan memperpendek jumlah rokaat.

Di sini terbukti bahwa Islam adalah agama yang very understanding.Kita sebagai manusia pers memiliki kebebasan berpendapat sesuai opini kita. Namun kita tidak bisa menampik begitu saja kebijakan para pakar. Misalnya saja pemerintah, ilmuan, dan ulama. Islam sendiri megajarkan taati Nabi. Kita tahu bahwa ulama adalah pewaris ilmu nabi. Setelah itu taati umaro yakni penguas atau pemerintah. Kita tahu bahwa kebijakan yang diambil berdasarkan telaah. Mereka lulusan ummul quro, al Ahzar, dan berbagai disiplin ilmu memiliki lebih banyak hafalan baik Al-Qur’an, hadits bahkan sejarah.Bila kita menengok sejarah bukan pertama kali Masjidil Haram menutup ruang ibadah. Tahun 1941 Arab juga menutup jamaah umroh karena banjir.

Bila kita melihat postingan Najwa Shihab yang berbincang dengan Prof. Quraish kita juga melihat bahwa adzan solatlah di rumah masing-masing pernah saat zaman nabi. Mengapa? Karena banjir ketika itu. Bila kita mengutip tulisan Dr. Syarif Hade kita juga tahu bahwa menghindari mafsadat atau masalah lebih baik dari pada kebaikan itu sendiri. Kita tahu jamaah itu baik namun bila virus corona tersebar melalui kontak kerumunan lebih baik dihindari.Perihal ketakutan. Tidak bisa menafikkan bahwa manusia memiliki naluri rasa takut. Takut sakit makanya kita makan. Takut tidak lulus makanya belajar.

Namun tidak mudah kita mengatakan bahwa ketakutan melemahkan manusia. Termasuk ketakutan akan corona melemahkan iman seseorang. Tidak.Justru ketakutan itulah yang memacu manusia untuk berpikir, mengambil tindakan, dan menyelesaikan masalah. Penyakit dari Allah, Allah juga yang menyembuhkan. Benar. Namun manusia diberikan akal untuk memahani clue yang diberikan Allah untuk didapatkan solusi. Misalnya, sudah menjadi ketetapan bahwa Al-Qur’an sudah dijaga kemurniaannya oleh Allah sampai akhir zaman. Namun mengapa masih dibutuhkan penghafal Al-Qur’an? Itulah Maha Besar Allah yang mengapresiasi makhluk-Nya.Begitu pula penyakit. Kita percaya Allah yang memberi namun seyogyanya kita berupaya mencari penawarnya.

Bila kita menjustifikasi bahwa manusia sekadar takut. Mungkin menteri perhubungan tak perlu terkena corona, walikota Bogor tak perlu terkena corona. Namun karena mereka tetao bertugas akhirnya mereka pun terpapar. Bila kita mengatakan takut para pakar, maka tak ada petugas medis yang menjadi garda terdepan. Padahal nyawalah taruhannya. Bahkan spesialis paru-paru, Dokter Handoko tidak akan di ICU karena hatus bertarung dengan pasien corona sampai jam tiga pagi setiap hari.Dalam pelajaran sejarah kita mengenal pemusnahan manusia disebabkan tiga. Yani banjir, peperangan, dan juga wabah penyakit. Disini bisa dilihat konklusinya bahwa bahaya penyakit setara dengan banjir bandang dan juga peperangan.

Lagipula dalam aturan juga tertera jelas. Patuhi aturan daerah. Dalam edaran kemenag maupun PBNU daerah yang dirasa aman maka kegiatan tetap berlangsung seperti salat jumat, bila daerah tersuspek maka tidak diperbolehkan, dan yang positif maka haram untuk melaksanakan.

Di sinilah poin-poin yang perlu kita pahami. Bahwa dalam akidah atau keimanan seseorang tak terbatas pada syariat. Namun juga hakikat atau esensi. Esensi ibadah adalah mendekatkan dan mencari ridlo Allah. Sedangkan itu semua tak terbatas ruang dan waktu. Dalam kondisi dan situasi apapun. Bahkan dengan cara apapun. Bukankah begitu? Baik di rumah atau di maba saja. Itu adalah hak perogatif manusia dengan Tuhannya.

Wallahu a’lam. (mahyafi.2020)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *