Konsep “Melek Moral” untuk Anak Usia Dini

Konsep “Melek Moral” untuk Anak Usia Dini

Konsep “melek moral” untuk anak usia dini

Konsep ‘Melek moral’ mencerminkan kompetensi untuk mengetahui, memahami, dan menilai proses pengambilan keputusan melakukan tindakan yang benar (Sagnak, 2012: 1426). Seseorang dapat memaknai tindakan layak dilakukan atau tidak didasarkan pada efek yang akan terjadi pada orang lain akibat tindakan tersebut. Oleh karena itu, pendekatan ‘melek moral’ ini juga menganggap bahwa perilaku yang benar adalah perilaku yang dapat memberikan kesenangan/kesejahteraan bagi kebanyakan orang.

‘Melek moral’ memungkinkan seseorang dapat mencegah perilaku tidak bermoral yang dapat membahayakan diri sendiri maupun oranglain. Setiap sekolah harus memiliki kode moral eksplisit yang dikomunikasikan secara jelas kepada anak. Perilaku yang salah harus segera diberitahukan pada anak bahwa mereka salah. Anak sebaiknya diajak berdiskusi dan diberi contoh moral yang patut untuk ditiru serta mendorong mereka berpartisipasi dalam kegiatan social masyarakat.

Metode konsep moral

Metode konsep moral dapat dikembangkan untuk anak-anak TK dengan cara yang paling disukai anak yaitu dengan bercerita. Pendidik dapat menggunakan buku cerita atau video berukuran besar dan berwana sehingga menarik perhatian anak untuk mendengarkan. Cerita yang disampaikan adalah cerita yang memiliki nilai-nilai moral dan keteladanan. Hal ini karena anak pada usia dini senang dengan adanya “modeling” dari tokoh yang ia senangi. Berbagai perilaku moral positif dapat ditanamkan pada diri anak melalui media ini.

Perilaku “modelling” juga bisa didapatkan oleh anak melalui orangtua, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama atau kesepakatan untuk memberikan teladan yang baik bagi anak dalam berperilaku sehingga akan menjadi sebuah pembiasaan bagi anak.

Pendidik di sekolah juga dapat membantu anak mengembangkan pemahaman moral dengan memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan kelompok sebayanya (Rita Eka Izzaty, dkk., 2008: 97). Anak diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan bernegosiasi menyelesaikan permasalahan-permasalahan diantara mereka tanpa keterlibatan orang dewasa. Di sini anak akan belajar memahami sudut pandang oranglain dan apa yang diharapkan oleh situasi social.

Ketika anak memahami sudut pandang oranglain, mereka memiliki kesempatan lebih banyak untuk sadar akan peratuan apa yang harus ditaati dan diharapkan oleh masyarakat ketika berinteraksi dengan oranglain. Hal ini dapat menjadi dasar bagi perkembangan moral anak.

baca juga : Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *