Klasifikasi Peran Gender pada Anak-anak

Klasifikasi Peran Gender pada Anak-anak

Klasifikasi peran gender itu dimulai dari anggapan bahwa laki-laki yang memiliki penyesuaian diri yang baik seharusnya tidak independen, agresif, dan berkuasa. Sedangkan untuk anak perempuan setelah dependen, mengasuh, dan tidak tertarik pada kekuasaan titik karakteristik makhluk lain dianggap sehat dan baik oleh masyarakat, sedangkan karakteristik feminim cenderung tidak diinginkan. Pada masa 1970 an, ketika laki-laki dan perempuan sama-sama merasa tidak puas terhadap siapapun yang ditimbulkan dari peran setiap detik ini, di usulkan alternatif terhadap maskulinitas dan feminitas ini.

Maskulin dan feminim tidak lagi digambarkan sebagai suatu kontinum, dimana kecenderungan terhadap salah satu sisi berarti kecenderungan yang lebih sedikit terhadap yang lain. seseorang dapat saja memiliki kedua hal ini maskulin dan feminin ini. pemikiran ini mendorong berkembangnya konsep androgyni. Adanya karakteristik maskulin dan feminin dalam satu individu secara bersamaan. Anak laki-laki yang mendukung ini biasanya asertif atau maskulin dan juga mengasuh atau feminim. Anak perempuan androgenik bisa saja memiliki kekuatan maskulin dan sensitif terhadap perasaan orang lain. b dengan sebuah penelitian terbaru hukuman dikonfirmasikan bahwa perubahan sosial di masyarakat telah mendorong perempuan untuk lebih asertif.

Pengukuran untuk mengukur androgen ini sudah banyak dikembangkan titik salah satu yang paling banyak digunakan dalam pengukuran adalah seks inventor dari Bem

baca juga : Perbedaan Jenis Kelamin dan Gender, Bagaimana?

untuk mengetahui apakah klasifikasi cinta dan maskulin feminin atau androgen. Seperti sandra bem berpendapat bahwa individu yang a gini lebih fleksibel, kabupaten, dan sehat secara mental dibandingkan orang yang feminim atau maskulin. Pun begitu, penentuan klasifikasi peran gender mana yang terbaik bergantung pada konteks yang ada titik sebagai contoh dalam hubungan interpersonal dengan tim, orientasi feminim atau androgen mungkin lebih lebih baik karena sifat ekspresif dari hubungan jenis ini tetapi orientasi maskulin dan androgen mungkin lebih baik dalam setting akademik tradisional dan di lingkungan kerja karena adanya tuntutan berprestasi dalam konteks ini. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa individu maskulin dan androgen memiliki ekspektasi yang lebih tinggi agar dapat mengontrol hasil dari usaha karena bisa mereka dibanding individu yang feminim atau yang tidak terdiferensiasi

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *