Katarsis Fisik dan Katarsis Mental pada Anak Usia Dini

Katarsis Fisik dan Katarsis Mental pada Anak Usia Dini

Katarsis fisik dan mental secara harfiah memiliki definisi yang berbeda.

KATARSIS FISIK

Setiap aktivitas yang menggunakan seluruh energi yang dihasilkan oleh perubahan fisik yang menyertai emosi akan menimbulkan suatu katarsis bagi energi ini dan memulihkan keseimbangan. Di kalangan anak-anak, tiga macam aktivitas katarsis yang paling umum dan paling menguntungkan adalah menyibukkan diri, tertawa, dan menangis. Akan tetapi kadar penerimaan aktivitas itu oleh kelompok sosial tidak sama. Menyibukkan diri, apakah melalui permainan atau kerja dapat diterima secara sosial.

Anak-anak dapat menyalurkan energi emosional dengan cara berlari, berenang, bermain bola, memotong rumput, menyekop salju, atau menggunakan palu dan gergaji. Untuk mencapai hasil katarsis yang diinginkan, aktivitas tidak hanya harus dapat diterima seCara sosial, tetapi juga harus memuaskan anak. Sebagai contoh, anak yang dipaksa memotong rumput tidak akan memperoleh nilai katarsis dari aktivitas ini seperti yang dapat diperolehnya apabila melakukan hal ini dengan sukarela. Kekesalan hati mereka akan menyebabkan keadaan-emosionalyang-semulda tetap hidup dan bukannya berkurang.

Demikian juga halnya, tangisan yang tuntas akan memerlukan waktu lama untuk dapat membersihkan tubuh dari ketegangan yang berlebihan. Bagaimanapun juga, anak-anak akan segera mengetahui bahwa menangis adalah hal yang tidak diterima secara sosial. Sekalipun mereka menangis dengan sembunyi-sembunyi, mata yang memerah akan membuka rahasia mereka. Lagipula, mereka merasa bersalah dan malu karena telah bertingkah ”seperti anak kecil” dan mengetahui bahwa mereka akan dicemoohkan dan dihina jika anak lain tahu bahwa mereka telah menangis. Masalah yang hampir sama timbul pada aktivitas tertawa. Anak-anak hanya dapat tertawa cukup keras untuk mencapai katarsis yang mereka butuhkan tanpa menimbulkan penolakan sosial: apabila mereka tertawa tatkala anak-anak lain juga tertawa, misalnya karena melihat suatu lelucon atau adegan komik di layar televisi atau bioskop.

KATARSIS MENTAL

Untuk mencapai katarsis mental, anak-anak harus mengubah sikap terhadap situasi yang menimbulkan emosi mereka. Hal ini berarti bahwa mereka harus belajar mentolerir emosi dan menyadari sebab kemarahan, dukacita ketakutan, kecemburuan mereka, dan sebagainya. Bagaimanapun juga, mereka sangat tidak berpengataman untuk menangani masalah ini tanpa bantuan. “Oleh karena itu, bimbingan mutlak diperlukan. Akan tetapi, anak-anak tidak -akan memperoleh manfaat bimbingan kecuali jika mereka mau ber komunikasi dengan orang lain. Tidak seorang pun dapat membantu mereka kecuali apabila mereka menghendakinya. Bimbingan dapat dilakukan secara langsung, yaitu melalui diskusi dan pengkajian masalah: atau secara tidak langsung, misalnya dengan teknik terapi permainan-boneka.

Anak-anak yang lebih tua yang tidak mau berkomunikasi dengan orang lain mungkin dapat menolong diri sendiri sampai batas tertentu dengan cara mempersamakan diri (identification) dengan karakter di media massa atau dengan melamun. Meskipun demikian, cara ini jauh kurang berarti ketimbang diskusi langsung tentang masalah mereka dengan orang yang dapat membantu mereka untuk memperoleh perspektif yang lebih baik.

baca juga : Cara Umum Menyalurkan Energi Emosional Anak

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *