Indikator Pemahaman Bahasa Anak: Mengenali Suara

Indikator Pemahaman Bahasa Anak: Mengenali Suara

Indikator pemahaman bahasa anak salah satunya adalah mengenali suara. Saat kita berbicara dengan seseorang, kita menghasilkan serangkaian suara secara terus-menerus dan diselingi jeda. hal juga terjadi ketika kita menulis kalimat sebagai kumpulan katayang menggunakan spasi antar kata.

Mengenali Suara Ucapan

Sistem pendengaran melakukan tugas yang sangat rumit sehingga memungkinkan kita mengenali suara ucapan. Vokal manusia jelas lebih terdengar dari suara lain di sekitar kita. Ketika seseorang berbicara mengenai informasi tertentu kita bisa mengenali siapakah dia dari suaranya. Selanjutnya, kita dapat menyaring suara non-ucapan, seperti batuk atau tawa, dalam vokalisasi individu.

Belin, Zatorre, dan Ahad (2002) menemukan bahwa beberapa daerah otak merespons lebih banyak ketika orang mendengar suara manusia (baik ucapan maupun non-bicara) daripada ketika mereka hanya mendengar suara alam. Belahan otak kiri dan kanan menunjukkan kontras antara vokalisasi dan suara lainnya. Ini menunjukkan bahwa belahan otak kiri memainkan peran lebih besar.

Analisis ucapan biasanya dimulai dengan fonem. Fonem adalah unsur ucapan unit suara terkecil yang memungkinkan kita untuk membedakan makna kata yang diucapkan. Misalnya, kata pin terdiri dari tiga fonem: / p /+/i/ n /. Banyak percobaan telah menyelidiki bagaimana kita membedakan fonem. Mulai dari deteksi: waktu ucapan, penundaan antara suara awal konsonan dan getaran pita suara. Perbedaan antara konsonan bersuara dan tidak bersuara memungkinkan kita membedakan antara / p / dan / b /, antara / k / dan / g /, dan antara / t / dan / d /.

Mengenali Kata-kata dalam Bicara yang berkelanjutan: mengenal konteks pembicaraan

Selain belajar unit berbicara, seperti kata-kata, kita juga belajar isinya. Meskipun terkadang nak berbicara penuh dengan keragu-raguan, suara teredam, dan pengucapan tak beraturan, mereka juga mampu mengenali suara karena konteksnya. Konteks mempengaruhi persepsi kata melalui pengolahan kata.

Konteks lain juga mempengaruhi persepsi kata. Sebagai contoh, meskipun kita cenderung berpikir dari percakapan hanya melibatkan suara, kita juga menggunakan jenis isyarat lain hadir di lingkungan untuk membantu kita memahami apa yang dikatakan seseorang. Konteks pembicaraan erat kaitannya dengan lingkungan dimana anak sedang melakukan percakapan. Terkadang hal ini membantu mereka memnyampaikan pikirannya kepada oranglain.

baca juga : Penelitian Emosional Anak: Apa Pentingya?

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *