Esensi Kebahagiaan Anak ditinjau 3 Aspek

Esensi Kebahagiaan Anak ditinjau 3 Aspek

Esensi kebahagiaan dilihat dari analisis kebahagiaan dan keseimbangan pada berbagai waktu.  Masa kanak-kanak seperti yang diuraikan pada postingan sebelumnya, sayapnya telah jelas bahwa terdapat tiga hal penting yang tampak nyata. Ketika hal itu adalah penerimaan, kasih sayang, dan prestasi.

baca sebelumnya: Periode Kebahagiaan dan Tidak Kebahagiaan Anak

Penerimaan bukan hanya berarti penerimaan oleh orang lain tetapi juga penerimaan terhadap diri sendiri . Akan tetapi, umumnya hal itu berjalan seiring. Anak yang terima orang lain merasa mudah menyukai dan menerima diri sendiri . Dengan demikian, mereka menjadi orang yang menyesuaikan diri dengan baik serta disenangi teman sebayanya dan orang dewasa

Anak yang diterima dapat mengharapkan adanya kasih sayang . Semakin mereka diterima orang lain semakin besar perasaan kasih sayang yang mereka akan beroleh. Akan tetapi untuk menerima kasih sayang mereka juga harus menentukan kasih sayang. Apabila mereka tidak melakukan hal yang sama maka penerimaan oleh orang lain akan berkurang dan sebaliknya jumlah kali saya yang terima dari mereka juga akan berkurang.

Kebahagiaan yang selanjutnya adalah prestasi . Agar anak berbahagia, prestasi mereka harus di bidang yang dianggap penting oleh anggota kelompok sosial dengan mana mereka menyatukan diri . Sebagai contoh, apabila menjadi seorang pemain bola yang baik merupakan hal yang penting bagi suatu kelompok, anak yang dianggap sebagai pemain bola yang baik akan merasa bahagia. Selain itu, kebahagiaan anak tergantung pada pencapaian tujuan yang mereka tetapkan sendiri . Salah satu hambatan terbesar dalam kebahagiaan di masa anak-anak adalah menentukan tujuan yang tidak sesuai dengan kenyataan . Bila para orang tua guru atau teman sebayanya yang mendorong untuk melakukan hal-hal yang menurut perkembangannya belum siap dilakukan, sekian akan mengalami kegagalan.

Akibatnya, mereka menjadi tidak puas atas diri sendiri dan merasa bahwa orang lain menganggapnya gagal. Hanya apabila tujuan itu nyata, dalam arti bahwa anak mampu mencapainya, mereka dapat berprestasi yang penting bagi penerimaan dirinya sendiri seperti halnya penerimaan oleh orang lain.

 

 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *