Analisis Fenomenologi Interpretatif (AFI)

Analisis Fenomenologi Interpretatif (AFI)

Analisis Fenomenologi Interpretatif (AFI) bertujuan untuk mengungkap secara detail bagaimana partisipan memaknai dunia personal dan sosialnya yang mencakup pengalaan, peristiwa, dan status yang dimiliki (Smith, 2009: 97).  IPA menekankan bahwa penelitian merupakan proses yang dinamis dengan peran aktif peneliti. Peneliti harus berusaha mendekat pada dunia partisipan untuk mendpatkan sesuatu yang mendalam. Partisipan berusaha memahami dunianya, sedangkan peneili berusaha memahami usaha-usaha partisipan memahami dunianya. IPA berusaha memahami “seperti apa” dari sudut pandanga partisipan untuk dapat berdiri pada posisi mereka.

baca juga : Help Children to Get Social Interaction

Data yang diperoleh dengan in-depth interview dapat dianalisis proses analisis data dengan Analisis Fenomenologi Interpretatif sebagaiman ditulis oleh Smith (Hajaroh, 13). Tahap-tahap Interpretative Phenomenological Analysis yang dilaksanakan sebagai berikut: 1) Reading and re-reading; 2) Initial noting; 3) Developing Emergent themes; 4) Searching for connections across emergent themes; 5) Moving the next cases; and 6) Looking for patterns across cases.

Reading and re-reading;

Bentuk kegiatan tahap ini adalah menuliskan transkrip interviu dari rekaman audio ke dalam transkrip dalam bentuk tulisan. Tahap ini mengarahkan peneliti bahwa partisipan benar-benar menjadi fokus analisis. Setiap kata-kata partisipant sangat penting untuk masuk dalam fase analisis. Membaca kembali data dengan model keseluruhan struktur interviu untuk selanjutnya dikembangkan, dan juga memberikan kesempatan pada peneliti untuk memperoleh pemahaman mengenai bagaimana narasi-narasi partisipant secara bersama-sama dapat terbagi dalam beberapa bagian.

Initial Noting

Tahap ini menguji isi/konten dari kata, kalimat dan bahasa yang digunakan partisipan dalam level eksploratori mungkin menghabiskan waktu. Peneliti mencatat segala sesuatu yang menarik dalam transkrip. Kemudian mengidentifikasi secara spesifik cara-cara partisipan mengatakan tentang sesuatu, memahami dan memikirkan mengenai isu-isu. Tahap 1 dan 2 ini melebur, dalam praktiknya dimulai dengan membuat catatan pada transkrip. Peneliti memulai aktifitas dengan membaca, kemudian membuat catatan eksploratori atau catatan umum yang dapat ditambahkan dengan membaca berikutnya. Jadi pada tahap ini peneliti mulai memberikan komentar dengan menduga pada apa yang ada pada teks. Komentar bertujuan untuk merangkum, menympulkan menghubungkan, aatau membuat interpretasi awal.

Data yang asli/original dari transkrip diberikan komentar-komentar dengan menggunakan ilustrasi komentar eksploratory. Komentar eksploratori dilaksanakan untuk memperoleh intisari. Komentar eksploratori meliputi komentar deskriptif, bahasa, dan konseptual. Komentar bahasa menyangkut penggunaan bahasa, nada, dan dialek yang akan dibandingkan ketika berganti transkrip wawancara untuk mencari perbedaan, persamaan, kontradiksi, dan penekanan yang ada dalam setipa kalimat responden.

Developing Emergent Themes (Mengembangkan kemunculan tema-tema)

Untuk memunculkan tema-tema peneliti memenej perubahan data dengan menganalisis secara simultan, berusaha mengurangi volume yang detail dari data yang berupa transkrip dan catatan awal yang masih ruwet (complexity) untuk di mapping kesalinghubungannya (interrelationship), hubungan (connection) dan pola-pola antar catatan eksploratori. Data transkip yang telah dituangkan dalam tulisan diubah ke dalam  frase singkat untuk memperoleh maksud esensial dari jawaban responden. Kemudian, peneliti mengelompokkan frase-frase yang sejenis dalam sebuah tema

Searching for connection a cross emergent themes

            Tema-tema yang muncul dicatat pada selembar kertas dan dicari koneksi diantaranya. Tidak semua tema yang muncul harus digabungkan dalam tahap analisis ini, beberapa tema mungkin akan dibuang. Analisis ini tergantung pada keseluruhan dari pertanyaan penelitian dan ruang lingkup penelitian.

Moving the next cases

Tahap analisis 1- 4 dilakukan pada setiap satu kasus/partisipan. Jika satu kasus selesai dan dituliskan hasil analisisnya maka tahap selanjutnya berpindah pada kasus atau partisipan berikutnya hingga selesai semua kasus. Langkah ini dilakukan pada semua transkrip partisipan, dengan cara mengulang proses yang sama.

Looking for patterns across cases

Tahap akhir merupakan tahap keenam dalam analisis ini adalah mencari pola-pola yang muncul antar kasus/partisipan. Peneliti dapat menggunakan tema dari kasus pertama sebagai acuan untuk analisis pada tahap berikutnya. Peneliti harus memperhatikan pola yang berulang dan menanggapi pola baru yang muncul saat mengerjakan transkrip. Peneliti memberikan kata kunci dari kutipan yang bersangkutan plus nomor halaman transkrip.

Ada dua kemungkinan besar dalam penyajian data.

Pertama, bagian hasil penelitian yang berisi analisis dipisahkan dari bagian diskusi atau pembahasan yang mengkaitkan hasil analisis dengan literature yang lebih luas.

Kedua, mendiskusikan kaitannya dnegan literature ketika peneliti menyajikan hasil penelitian dan pembahasan yang digabung.

Referensi

Jailani, M. S. (2013). Ragam Penelitian Qualitative (Ethnografi, Fenomenologi, Grounded Theory, dan Studi Kasus). EDU-BIO4.

Smith, Jonathan A. (2009). Psikologi Kualitatif. Penerjemah Budi Santosa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Hajaroh, M. (2009). Paradigma, Pendekatan Dan Metode Penelitian Fenomenologi.

 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *