Anak dari Keluarga yang Bercerai

Anak dari Keluarga yang Bercerai

Anak dari keluarga yang bercerai setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Pernikahan dini, orangtua yang belum dewasa secara mental, faktor ekonomi,gaya hidup, dan kurangnya pendidikan agama pada manusia di era serba digital ini membuat angka perceraian semakin melonjak. Tidak harus mereka yang katakanlah memiliki gaya hidup bebas, seorang ulama atau ustad pun manusia biasa yang juga dapat mengalami proses perceraian.

Lantas, apakah anak-anak berkembang lebih baik dalam keluarga lengkap yang tidak pernah bercerai ketimbang keluarga yang bercerai?

Kebanyakan peneliti setuju bahwa anak-anak dari keluarga yang bercerrai menunjukkan penyeusaian diri yang lebih buruk dibandingkan anak-anak dari keluarga yang tidak bercerai. Anak-anak dari keluarga yang bercerai lebih memiliki kecenderungan untuk mengalami masalah akademis , menunjukkan masalah-masalah eksternal seperti kecemasan dan depresi , kurang memiliki tanggungjawab sosial, memiliki hubungan intim yang kurang baik, putus sekolah, aktif secara seksual di usia dini, menggunakan obat-obatan, berhubungan dengan peer antisosial, dan memiliki nilai diri yang rendah.

Namun hal ini tidak dapat digeneralisasikan karena penelitian lain menunjukkan bahwa mayoritas anak dair keluarga bercerai tidak mengalami masalah penyesuaian yang signifikan. Dalam sebuah stui longitudinal selama 20 tahun, sekelompok besar pemuda yang orangtuanya bercerai ketika masih kanak-kanak daapt beradaptasi dan hidup secara efektif.

Haruskah orangtua hidup bersama demi anak-anak?

Hal ini tergantung situasi yang dialami oleh masing-masing orangtua. Jika perceraian terjadi karena konflik yang berkepanjangan sehingga menyebabkan tekanan batin, stress, dan kekerasan secara verbal dan fisik maka dapat dikatakan perceraian memiliki manfaat. Namun jika perceraian mengakibatkan konflik dalam pengasuhan, bahkan merambat ke keluarga besar dan anak maka itu tidaklah sehat. Utamanya adalah berikan kasih sayang yang cukup dan sesuai untuk anak dan juga untuk diri orangtua sendiri. Adalah hal yang tidak sinkron ketika seseorang mempertahankan rumah tangga jika salah satu pihak bersikap semena-mena tanpa ada rasa saling pengertian. Karena kondisi psikologis seorang ibu akan sangat  berdampak pada anak.

baca juga : Harapan Orangtua di Cina dan Kemampuan Sosial Anak

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *