ABK: Pendidikan untuk Anak Berkebutuhan Khusus

ABK: Pendidikan untuk Anak Berkebutuhan Khusus

ABK merupakan anak yang memilii ciri berbeda dengan anak yang lainnya. Umumnya mereka mengalami hambatan dan pertumbuhan dan perkembangan. Jumlah anak ABK di Indonesia mencapai 1,4 juta pada tahun 2014. ABK dapat terjadi pada siapa saja sejak dini. Diperlukan identifikasi khusus agar dapat diberikan penanganan sedini mungkin. Ketika orangtua menemukan perilaku yang berbeda pada anaknya maka ia dapat langsung menghubungi konselor psikolog. Kebutuhan keluarga dan anak ABK masih banyak yang terabaikan. Masyarakat memandang sebelah mereka yang memiliki anak ABK, sehingga apa yang dirasakan keluarga semakin menjadi berat. Pemasalahan anak ABK adalah memenuhi kebutuhannya sendiri dan lingkungan yang sering tidak memberikan kesempatan pada mereka untuk tumbuh dan berkembang.

Pendidikan untuk ABK

SLB.

  • Mendidik anak dengan kebutuhan yang sama. Contoh: SLB Tunarungu, SLB Tunadaksa

SDLB

  • Mendidik anak dengan kebutuhan yang beragam

Pendidikan Terpadu

  • Disebut juga sekolah inklusi meskipun belum banyak sekolah yang dapat menerima ABK

UU RI NO 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa sistem pendidikan nasional memberikan warna lain dalam penyediaan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Pasal 15 – Pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkebutuhan khusus atau pesserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif pada pendidikan tingkat dasar dan menengah.

Pendidikan Inklusif

Pendidikan yang melibatkan anak berkebutuhan khusus dalam pembelajaran anak biasa. Dasarnya adalah pada kenyataannya di dunia mereka hidup berdampingan. Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus yang ditempatkan di SLB tidak mengalami peningkatan sama sekali. anak berkebutuhan khusus  yang telah mengenyam pendidikan selama 12 tahun di SLB ternyata belum bisa mandiri, belum terampil melakukan kegiatan sehari-hari, dan ketergantungan pada oranglain cukup tinggi. Terjadi kesenjangan antara harapan orangtua dan lembaga. Orangtua berharap anak mereka mandiri  sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Lembaga mengajarkan bahan ajar akademik secara klasikal tanpa memperhatikan keragaman kebutuhan khususnya. Dua Keterampilan yang Harus Dikuasai anak berkebutuhan khusus adalah Keterampilan dasar membaca, menulis, berhitung, dan komunikasi lisna dan Keterampilan perilaku adaptif.

Baca juga: Tes Kecerdasan, Apa Saja Jenisnya?

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *